Hasil Inovasi Mahasiswa KKN Unsika, Taman Vertikal dan Penghijauan Warnai Makam Syekh Quro

Dipublikasikan oleh Desa Pulokalapa pada 21 Jul 2025

Gambar Berita

Makam Syekh Quro yang dikenal sebagai situs bersejarah dan religi di Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, kini tampil lebih tertata dan nyaman. Hal tersebut berkat kegiatan penghijauan dan inovasi taman vertikal yang merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa KKN Unsika tahun 2025 dengan warga setempat. Kegiatan ini menjadi lanjutan dari upaya pelestarian lingkungan yang sebelumnya sudah ditunjukkan dengan aksi bersih-bersih makam.

Kegiatan penghijauan dimulai sejak pagi hari, Rabu (16/7/2025), dengan penanaman beberapa jenis pohon pelindung dan pohon identitas desa. Pohon-pohon tersebut antaranya adalah pohon kelapa sebagai ciri khas Desa Pulokalapa, serta pohon merbau, mahoni, dan ketapang yang dikenal memiliki manfaat ekologis tinggi. Penanaman dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa KKN Unsika bersama warga, tokoh masyarakat, dan pengelola makam.

Wiwin Wulan dan Hafiz Firmansyah selaku penanggung jawab program penghijauan menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperindah kawasan makam, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai ekologis dan identitas lokal yang ada di Desa Pulokalapa.

“Pohon kelapa kami pilih sebagai simbol desa, sedangkan pohon lainnya berfungsi memberikan keteduhan, menyerap karbon, dan memperkuat daya tahan tanah. Harapannya, makam Syekh Quro bisa menjadi tempat yang bukan hanya religius dan historis, tetapi juga ramah lingkungan,” jelas Wiwin Wulan, Rabu (16/7/2025).

Menariknya, kegiatan ini turut dikolaborasikan dengan program pengelolaan sampah berbasis daur ulang. Di pintu masuk makam, mahasiswa bersama dengan warga membangun taman vertikal dari botol bekas yang disusun rapi dan disertai dengan sistem pengairan sehingga memberikan sentuhan hijau yang estetik sekaligus fungsional.

Program taman vertikal ini dipimpin oleh Naufal Rabbani Sumitra. Ia menjelaskan bahwa taman tersebut dirancang tidak hanya sebagai elemen penghias, tetapi juga sebagai bentuk edukasi tentang pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah plastik bisa disulap jadi sesuatu yang indah dan bermanfaat. Bukan hanya soal estetika, tapi juga gerakan kecil menuju desa yang lebih sadar lingkungan,” ujar Naufal, Rabu (16/7/2025)

Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat sekitar. Beberapa warga bahkan menyatakan keinginannya untuk mereplikasi taman vertikal tersebut di halaman rumah atau lingkungan sekitar mereka.

Salah satu tokoh masyarakat, Amud Amo, yang juga merupakan pengelola makam Syekh Quro, menyampaikan rasa syukurnya atas kegiatan ini. Ia menilai bahwa penghijauan yang dilakukan mahasiswa dan warga merupakan wujud nyata dari harapan lama yang akhirnya tercapai. Dengan begitu, ia juga berharap agar kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut dan dijaga bersama.

“Saya sudah lama berharap agar lingkungan makam ini bisa menjadi lebih hijau dan teduh. Alhamdulillah sekarang mulai terwujud. Pohon-pohon yang ditanam ini bukan hanya memperindah, tapi juga memberi rasa damai bagi para peziarah,” tutur Amud, Rabu (16/7/2025).

Senada dengan itu, salah satu pengelola Makam Syekh Quro, Ade Caman, juga menyambut baik upaya penghijauan dan pembangunan taman vertikal yang dilakukan mahasiswa bersama warga. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya mempercantik kawasan makam, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

“Ini bukan hanya soal memperindah area makam, tapi juga mendidik masyarakat, terutama generasi muda, bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial. Kami melihat kegiatan ini sebagai awal yang baik untuk membangun kebiasaan baru untuk merawat, bukan hanya datang dan pergi saat ziarah,” ujar Ade Caman, Rabu (16/7/2025).

Ade juga menekankan pentingnya keberlanjutan program semacam ini di masa mendatang. Ia berharap kehadiran taman vertikal dan area hijau di makam bisa menginspirasi warga lain untuk ikut menerapkan konsep serupa di lingkungan rumah atau tempat ibadah lain di desa tersebut.

“Kalau bisa dijaga bersama, bukan tidak mungkin makam Syekh Quro akan menjadi contoh pelestarian situs religi yang ramah lingkungan. Ini modal sosial yang sangat berharga bagi desa kami,” tambahnya.

Dengan semangat hijau yang terus tumbuh, Makam Syekh Quro kini tidak hanya menjadi tempat ziarah dan refleksi spiritual, tetapi juga menjadi simbol desa yang mencintai alam dan budaya.